Apa anda suka baca cerita pendek atau yang biasa disebut cerpen? Jika Iya, silahkan baca Cerpen buatan saya, walaupun hanya sederhana. Mohon maaf bila ada kesamaan nama atau tempat. Selamat Membaca...
Apalah Arti
Hidup?
Perkenalan tokoh :
·
Bilqis : Sebagai tokoh AKU
·
Talita : Adik dari Bilqis
·
Josua : Kakak dari Bilqis
Part 1#
Aulia Bilqis Faiha, Ya! itu namaku. Aku terlahir disebuah
keluarga yang sangat tercukupi. Semua serba ada dan mewah. Aku juga terlahir
dengan paras wajah cantik berseri bagaikan air jernih yang mengalir, bulu mata
yang lentik, bibir yang mungil dan hidung yang mancung. Namun kemalangan
menimpa diriku dan juga keluargaku. Saat akan berlibur ke Desa, tempat nenek
dan kakekku tinggal, mobil keluargaku yang bermerk Fortuner menabrak sebuah
pohon tua dan kekar. Hanya karena ada bayangan putih melintas itu membuat
semuanya menjadi berantakan. Ayah dan Bunda sudah meninggalkanku dahulu, tanpa
izin maupun pesan. Aku dan kakakku Josua hanya mengalami luka ringan, sedangkan
adikku yang masih berumur 8 tahun sudah kehilangan 1 kaki. Mungkin ini ujian
yang sangat berat bagiku. Sekarang Aku tidak mempunyai apa-apa. Hanya Adik dan
Kakakku ini yang harus Aku lindungi, Aku sayang, Aku rawat, maupun Aku jaga.
Pagi hingga malam kakakku mencari uang maupun makanan dengan cara berkerja
menjadi pelayan restoran. Beruntung sekali kakakku sudah berumur 19 tahun dan
sudah mempunyai ijazah. Ya.. walaupun gaji yang dimiliki kakakku tidak terlalu
mencukupi. Aku dan Adikku masih melanjutkan ke sekolah biasa, walaupun keadaan
sekolah itu cukup memprihatinkan. Dinding yang retak, atap terbuka sedikit, dan
lantai tanpa keramik membuatku sulit untuk berkonsentrasi ke pembelajaran
tersebut. Memang usia sekolah itu sudah terlalu tua dariku. Warga sekitarnya
menyebutkan SMP Karangan. Sedangkan sekolah adikku bernama SD Karangan. Jarak
antara SMPku dan SD adikku tidak terlalu jauh dengan rumahku. Walaupun rumahku
terlihat kecil, tetapi itu nyaman bagiku. Rumahku pun bersih dan sejuk karena
dikelilingi oleh beberapa pohon mangga dan jambu. Berangkat maupun pulang pun
Aku harus berjalan, apapun rintangannya, hujan lah.. panas lah.. banjir lah..
harus tetap aku jalani. Banyak kendaraan berlalu-lalang tak membuatku malu
untuk berjalan sambil mendorong kursi roda adikku. Itupun kurasakan selama 10
bulan seusai orang tuaku meninggal. Setelah pulang, Aku harus berjualan roti
milik tetanggaku mak Ronah. Jika semuanya terjual, aku hanya diberi upah Rp
20000. Dan jika tidak terjual semuanya, aku hanya diberikan Rp 5000 saja. Uang
itu langsung kubelanjakan sayuran dan lauk yang berharga sekitar 5000-an. Sayur
itu tidak sebersih sayur yang sering Bunda beli. Harus gimana lagi? Inilah
nasib yang harus aku terima. Namun tidak selamanya aku bisa bertahan, itu hanya
membuatku semakin bosan.
“Mbak.. tempenya asin benget!” Kritik adikku dengan raut
wajah memelas.
“Udahlah dek.. makan aja. Nanti
malem kalau mas Jo dah pulang, langsung dimasakin yang enak.” Kataku sembari
mengunyah nasi tempe yang berada didalam mulutku. Memang aku tidak terlalu jago
memasak, tapi aku melakukan semuanya untuk adikku tersayang agar perutnya
terisi.
“Tapi lama banget! Ini kan
masih jam 2, adek gak pengen makan. Mbak..!!” Panggil adikku lirih.
“Hih!! Kalo gak enak ya udah,
gak usah makan. Masak sendiri sana! Enggak terimakasih malah minta yang lain.”
Bentakku tegas. Adikku langsung diam sejuta kata sambil menatap nasinya itu.
Menunduk bersedih membuatku teringat seorang Ayah yang telah bekerja keras
mencari nafkah, yaitu Ayahku sendiri. Akupun bergegas dan duduk dikursi coklat
dekat kursi roda adikku. Aku membelai rambut panjangnya dengan perlahan.
“Mbak minta maaf ya dek..
Syukuri aja yang sudah kita dapat.” Ujarku menenangkan.
“Iya mbak.” Jawabnya singkat.
Terpaksa adikku harus makan tempe asin dengan sambel uleg buatanku. Setelah
habis, adikku langsung memutarkan roda dikursinya dan berjalan menuju kamarnya.
Aku melihat adikku terasa ingin menangis. Tetapi manjanya itu yang membuatku
ingin marah dan mudah bosan.
***
Siang dan sore tlah berlalu, terlihat dilangit terdapat
ribuan bintang bersinar dengan bulan sabit yang memancarkan cahayanya. Aku
menunggu kakakku pulang dari kerjanya sembari menatap malam di teras depan
rumah. Menit maupun detik kian berlalu, hingga ku tertidur pulas menanti
kedatangan kakakku.
Terdengar suara serak-serak basah ditelingaku, membuatku
terbangun dengan lajunya. Aku melihat luka disekujur tubuh kakakku dan motor
yang hancur tak terbentuk. Pandangan itu membuatku ingin bertanya dengan
kakakku.
“Mas Jo tadi keserempet sama truk.” Jawabnya lirih.
“Innalillahi wailaihirojiun.
Diminum dulu teh hangatnya mas.” Ku suguhkan secangkir teh hangat untuk
kakakku. Luka yang menempel ditubuhnya langsung ku obati dengan perlahan. Tepat
jam 23.25 WIB, Aku mengantar kakakku kekamarnya. Seusai mengantar dan keluar menutup
pintu kamar kakakku, Aku langsung duduk dimeja makan yang terlihat cukup gelap
dan hanya ada sebiji lampu bolam yang bersinar. Tak seperti biasanya, Aku
selalu takut dengan hawa mistis malam hari, rasanya aku seperti ditemani oleh
sosok 2 bayangan putih misterius disampingku.
“Rawat kakakmu.” Bisik itu
mulai muncul dibenakku. Aku berusaha untuk menghilangkan rasa halusinasiku itu.
Tetapi kalimat itu terus terucap dipikiranku. Aku mulai bangkit dan bergegas
untuk tidur disamping Adikku, Talita. Saat akan memejamkan mataku, Aku
terbangun dan teringat kalau Adikku belum makan sore tadi. “Biarlah, anggap saja adikku sudah makan.”
Gumamku santai.
Part 2#
Pikiranku selalu dihantui oleh kematian, Aku takut bila
harus meninggalkan kakak dan adikku. Kurenungkan semuanya dibale bawah pohon
rindang itu. Menunduk sambil menggoyangkan kakiku justru menjerumuskan
ingatanku waktu lampau. Aku sering mencurahkan apa saja yang ada dipikiranku ke
Bundaku sembari menggoyangkan kakiku itu. Walaupun minggu ini aku sedang
disengat sang Ratu matahari, Aku tetap diam melamunkan semuanya.
“Mbak seragam adek udah ada yang bolong, tolong jahitkan
mbak!” Talita mengulurkan seragam kusam itu kearah bola mataku. Lamunanku
menghilang dengan cepatnya. Adikku memohonnya dengan mata yang penuh binar. Aku
membalasnya dengan anggukan manis, kuterima seragam itu langsung kuberanjak
menuju sebuah rumah sepetak yang bertuliskan “Jahit Murah”. Kebetulan tidak
jauh dari tempat tinggalku. Terdengar suara mesin jahit itu membuatku teringat
sesuatu saat aku diajak oleh ayah ke sebuah penjahit terkenal, dengan desain
yang luar biasa. Aku melakukannya dengan tangan mungilku. Detik demi detik itu
aku mulai bisa menjahit sebuah rok wiru sekolah dasarku dulu. Tetapi semuanya
tlah berlalu, kini Aku tidak bisa melakukannya yang sama.
“Adek.. dek.. Ini bajunya sudah jadi!” Ucap penjahit tua
itu membuatku terbangun dari lamunanku tadi. Tanpa basa-basi aku langsung
membayarnya dengan beberapa keping recehan. Ya Alhamdulillah.. penjahit itu
menerimanya dengan senang hati. Aku bergegas pulang untuk menyiapkan makan
siang. Dengan terburu-buru, Aku hampir menabrak motor yang melintas didepanku.
Kutarik nafasku kuat-kuat untuk menenangkan fikiranku tadi.
Part 3#
Senin!! Pasti sudah biasa kalo yang namanya Upacara. Hari
itu aku tidak mempunyai topi karena aku belum cukup mampu membelinya. Beruntung
sekali guruku mengizinkannya. Ya biarlah kalo Aku sering disindir oleh temanku
yang derajatnya diatasku. Karna dulu waktu masih ada orang tuaku, aku juga
pernah melakukannya. Mungkin ini ujian dari Allah SWT untukku.
Perjalanan pulang ini terlihat agak petang dan gemuruh
mulai berteriak, kemungkinan hari ini akan hujan deras. Aku terus melanjutkan
langkahku sembari mendorong korsi roda adikku. Tiba-tiba awan putih langsung
menangis dengan cepatnya membasahiku dan Talita. Aku bergegas lari dengan
mendorongnya ketempat teduh di seberang jalan, tanpa kusadari kursi roda adikku
berputar dan Talita terjatuh tergelempang. Waktu itu aku belum sempat menoleh
kekanan dan kekiri, sebuah truk pengangkut batu-bata menabrak adikku. Bukan
menolong malah melarikan diri. Ya Allah.. Cobaan apa lagi yang harus aku
tempuh. Orang yang melihatku bergegas menolong adikku dan membawanya ke rumah
sakit terdekat.
***
“Adik Talita mengalami pendarahan yang sangat hebat, dan
juga pendarahan itu merusak hatinya. Talita sangat membutuhkan donoran hati
secepatnya. Dan operasi itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Kasihan bila
dia terbiarkan tanpa hati, nyawanya akan tersiksa.” Mendengar perkataan dokter
tadi, membuatku menangis hingga tersedu-sedu. Kakakku hanya bisa merenungkan
sembari merintikkan air matanya. Tiba-tiba seorang Ibu menghampiriku dengan
perlahan. Ibu itu bersedia membantuku dalam proses pembiayaan, namun yang
kucari hanyalah donoran hati untuk adikku.
“Biar hati kakak saja yang diambil.” Kata itu mulai terucap
di bibir manis kakakku. Akupun tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Tetapi kak
Josua tetap memaksakan kehendaknya.
Part 4#
Satu minggu dua hari tlah berlalu, kini tinggal Aku yang
harus mencari nafkah untuk adikku. Pagi hingga sore tak akan lelah bagiku tuk
mencari makan. Walaupun pekerjaanku hanyalah sebagai tukang kebersihan ditaman
kota. Sedangkan Talita yang membantuku membersihkan rumah karena ia sudah bisa
berjalan karena donoran hati dan kaki dari kakakku, Joshua.
“Mbak.. adek tadi difitnah sama teman adek.” Curhat Talita
memelas.
“Difitnah gimana?”
“Huu!! Kalo gak punya
spidol ya jangan nyolong! Kere masih aja Gaya! Huu..”
“Astagfirullah.. Emangnya adek ambil tuh spidol?”
“Enggak mbak, itu padahal punya teman sebelahku. Ya..
memang mirip, tapi kan aku enggak ngambil. Bener mbak!! Adek berani Sumpah.” Ujarnya panjang lebar.
“Lho kenapa gak jelasin baik-baik ke temenmu?”
“Sudah mbak, dianya yang gak percaya. andai aja kalo tadi
ada sebelahku, Pasti adek udah terhindar dari fitnah itu. Karna sebelahku tadi
baru ke perpus.”
“Udah.. gak usah dipikir, mungkin kamu lagi diuji
kesabaranmu oleh Allah SWT.” Kataku menenangkan. Sedangkan Talita hanya
mengangguk sedih. Setelah mendengar ucap Talita tadi, ku serasa ingin membelikannya
sebuah spidol. Ku melangkah kearah almari coklatku dan mengambil sebuah kotak
yang berdebu. Hanya ada selembar uang Rp 100000 dan beberapa uang recehan
maupun 1000-an. Akupun mengambil hanya 5 lembar uang 1000-an saja.
Detik demi detik ku mulai mencarinya. Tanpa kusadari aku
melihat seorang anak tengah menggambar dengan ibundanya. Aku menghampirinya dan
berbicara perlahan dengan sopan.
“Assalamualaikum.. Maaf, saya lancang. Bolehkah spidol itu
saya beli?” Pintaku penuh binar. Dan ibu itu mengizinkanku untuk membelinya.
Namun harga spidol itu tidak cukup dengan uang yang aku bawa. Harganya Rp 8000
sedangkan uang yang kubawa hanyalah 5000.
“5000 juga gapapa dek, ini kan dah bekas anak saya.” Ibu
itu menerimanya dengan senang. “Alhamdulillah… Ya Allah…” Syukur ku kepada
Tuhan.
***
Sesampai dirumah, Aku melihat seorang Ibu sedang memarahi
Anak perempuan. Tanpa kusadari yang dimarahin itu adikku sendiri, Talita.
Akupun bergegas menghampirinya. Langsung saja ku bertanya apa yang terjadi
sebenarnya.
“Ini Adek kamu itu dijaga, kalo gak punya sepeda yaudah,
jangan dorong sama njatuhin anak saya, udah gak dipinjemin masih aja maksa.”
Ucap Ibu itu dengan tegas. Ya Allah.. hanya masalah itu saja sampai seperti
ini. Ku ucapkan perlahan-lahan kalau Talita memang salah, namun Talita marah
dan langsung masuk kekamarnya. Aku meminta maaf ke Ibu tadi atas kesalahan
adikku.
“Ya.. tapi jangan diulang lagi.” Jawab Ibu itu sinis. Aku
hanya bisa diam dan menganggukkan kepala.
Part 5#
Pagi
itu terlihat cerah, ku semangati pekerjaanku membersihkan taman kota. Hingga
tak terasa waktu demi waktu tlah berlalu. Saat dalam perjalanan pulang, aku
melihat sekumpulan warga bergerombol dipinggir jalan raya. Karna penasaran,
akupun memutuskan untuk bertanya pada Ibu yang melintas dihadapanku.
“Ohh itu.. anak kecil tadi ditabrak mobil fortuner putih.
Tapi anehnya mobil itu tiba2 menghilang.” Ucap Ibu itu menghayati.
“Hahh.. Mosok? Emang seumuran berapa? Trus plat nomer mobil
tadi apa bu?” Tanyaku.
“Seumuran Anak SD, kurang lebih 9 tahun-an. Kayaknya plat
tadi itu (B 28 JBT).” Akupun terkejut mendengar jawaban ibu tadi. Plat mobil
itu adalah plat mobil Fortuner milik ayah saat keluargaku kecelakaan, karena
simbol JBT adalah singkatan dari Josua, Bilqis, dan Talita. Dan juga 9 tahun itu
adalah umur adikku, Talita. Akupun
bergegas melihatnya dan ternyata…
Itu memang Talita Adikku. Saat kuraba lubang hidungnya, tak
kusangka Adikku sudah pergi meninggalkanku. Secara derasnya air mataku
membasahi pipiku. “Kenapa Cobaan yang Kau berikan tak habis-habis… Ya Allah..”
Teriakku. Orang yang mengelilingiku hanya bisa terdiam saat melihat aku memeluk
erat adikku. Tiba-tiba seorang bapak memberikan sebuah perekam suara yang
berlumuran darah kepadaku.
“Ini milik adikmu, tadi dia sempat merekam pembicaraanya
saat mau menyebrang jalan.” Aku menerimanya dan menghidupkannya perlahan.
“Mbak Bilqis.. Ini
Adek. Semalem adek mimpi bertemu dengan ayah, bunda, dan mas jo. Mereka
mengajak adek untuk pergi bersama meninggalkan Mbak Bilqis. Agar Mbak bisa
belajar bersabar karena Mbak dulu itu Egois dan mudah marah. Adek tau
sebenarnya hati Mbak itu mulia, tapi Mbak sukanya bentak adek terus. Andaikan
Mbak bisa memaafkan adek saat ini juga, adek bisa pergi dengan tenang bersama
mereka. Adek gak akan lupa masa-masa dulu saat Mbak sering bantu adek waktu
adek tidak bisa jalan dan selalu berada dikursi roda. Selamat Tinggal dan
Terimakasih banyak Kakakku tersayang... Tinn tinn……” Suara Adikku sekaligus
suara lakson mobil. Aku tidak bisa membalasnya dengan kata-kata. Air mataku
terus bercucuran tanpa henti.
Part 6#
Aku berjalan pergi meninggalkan tempat tinggalku seusai
Tujuh hari pemakaman adikku. Walaupun udara siang itu sedang hangat bingar, aku
tetap melangkahkan kakiku detik demi detik. Hingga tak terasa telah sampai di
Jembatan Situmulyo yang tidak jauh dari tempat tinggalku. Ku mulai mengangkat
kakiku keluar pembatas jembatan. Tanpa menghiraukan larangan warga, aku
langsung melepaskan peganganku di jembatan itu.
“Ayah.. Bunda.. Mas Jo.. Dek Talita.. Tunggu Aku disana.”
Ujarku. Langsung saja aku berbalik arah dan melepaskan keseimbanganku agar aku
bisa bertemu dengan keluargaku. Akupun Jatuh dan tewas seketika di sungai itu.
SAD
ENDING
Gimana Ceritanya? Sedih bukan? Semoga bermanfaat bagi anda dan terimakasih telah membaca cerita hasil karangan saya.



