Kamis, 14 Mei 2015

Cerita Pendek (Cerpen) kehidupan

Apa anda suka baca cerita pendek atau yang biasa disebut cerpen? Jika Iya, silahkan baca Cerpen buatan saya, walaupun hanya sederhana. Mohon maaf bila ada kesamaan nama atau tempat. Selamat Membaca...


Apalah Arti Hidup?
Perkenalan tokoh :
·        Bilqis  : Sebagai tokoh AKU
·        Talita : Adik dari Bilqis
·        Josua : Kakak dari Bilqis

Part 1#
          Aulia Bilqis Faiha, Ya! itu namaku. Aku terlahir disebuah keluarga yang sangat tercukupi. Semua serba ada dan mewah. Aku juga terlahir dengan paras wajah cantik berseri bagaikan air jernih yang mengalir, bulu mata yang lentik, bibir yang mungil dan hidung yang mancung. Namun kemalangan menimpa diriku dan juga keluargaku. Saat akan berlibur ke Desa, tempat nenek dan kakekku tinggal, mobil keluargaku yang bermerk Fortuner menabrak sebuah pohon tua dan kekar. Hanya karena ada bayangan putih melintas itu membuat semuanya menjadi berantakan. Ayah dan Bunda sudah meninggalkanku dahulu, tanpa izin maupun pesan. Aku dan kakakku Josua hanya mengalami luka ringan, sedangkan adikku yang masih berumur 8 tahun sudah kehilangan 1 kaki. Mungkin ini ujian yang sangat berat bagiku. Sekarang Aku tidak mempunyai apa-apa. Hanya Adik dan Kakakku ini yang harus Aku lindungi, Aku sayang, Aku rawat, maupun Aku jaga. Pagi hingga malam kakakku mencari uang maupun makanan dengan cara berkerja menjadi pelayan restoran. Beruntung sekali kakakku sudah berumur 19 tahun dan sudah mempunyai ijazah. Ya.. walaupun gaji yang dimiliki kakakku tidak terlalu mencukupi. Aku dan Adikku masih melanjutkan ke sekolah biasa, walaupun keadaan sekolah itu cukup memprihatinkan. Dinding yang retak, atap terbuka sedikit, dan lantai tanpa keramik membuatku sulit untuk berkonsentrasi ke pembelajaran tersebut. Memang usia sekolah itu sudah terlalu tua dariku. Warga sekitarnya menyebutkan SMP Karangan. Sedangkan sekolah adikku bernama SD Karangan. Jarak antara SMPku dan SD adikku tidak terlalu jauh dengan rumahku. Walaupun rumahku terlihat kecil, tetapi itu nyaman bagiku. Rumahku pun bersih dan sejuk karena dikelilingi oleh beberapa pohon mangga dan jambu. Berangkat maupun pulang pun Aku harus berjalan, apapun rintangannya, hujan lah.. panas lah.. banjir lah.. harus tetap aku jalani. Banyak kendaraan berlalu-lalang tak membuatku malu untuk berjalan sambil mendorong kursi roda adikku. Itupun kurasakan selama 10 bulan seusai orang tuaku meninggal. Setelah pulang, Aku harus berjualan roti milik tetanggaku mak Ronah. Jika semuanya terjual, aku hanya diberi upah Rp 20000. Dan jika tidak terjual semuanya, aku hanya diberikan Rp 5000 saja. Uang itu langsung kubelanjakan sayuran dan lauk yang berharga sekitar 5000-an. Sayur itu tidak sebersih sayur yang sering Bunda beli. Harus gimana lagi? Inilah nasib yang harus aku terima. Namun tidak selamanya aku bisa bertahan, itu hanya membuatku semakin bosan.
          “Mbak.. tempenya asin benget!” Kritik adikku dengan raut wajah memelas.
“Udahlah dek.. makan aja. Nanti malem kalau mas Jo dah pulang, langsung dimasakin yang enak.” Kataku sembari mengunyah nasi tempe yang berada didalam mulutku. Memang aku tidak terlalu jago memasak, tapi aku melakukan semuanya untuk adikku tersayang agar perutnya terisi.
“Tapi lama banget! Ini kan masih jam 2, adek gak pengen makan. Mbak..!!” Panggil adikku lirih.
“Hih!! Kalo gak enak ya udah, gak usah makan. Masak sendiri sana! Enggak terimakasih malah minta yang lain.” Bentakku tegas. Adikku langsung diam sejuta kata sambil menatap nasinya itu. Menunduk bersedih membuatku teringat seorang Ayah yang telah bekerja keras mencari nafkah, yaitu Ayahku sendiri. Akupun bergegas dan duduk dikursi coklat dekat kursi roda adikku. Aku membelai rambut panjangnya dengan perlahan.
“Mbak minta maaf ya dek.. Syukuri aja yang sudah kita dapat.” Ujarku menenangkan.
“Iya mbak.” Jawabnya singkat. Terpaksa adikku harus makan tempe asin dengan sambel uleg buatanku. Setelah habis, adikku langsung memutarkan roda dikursinya dan berjalan menuju kamarnya. Aku melihat adikku terasa ingin menangis. Tetapi manjanya itu yang membuatku ingin marah dan mudah bosan.
***
          Siang dan sore tlah berlalu, terlihat dilangit terdapat ribuan bintang bersinar dengan bulan sabit yang memancarkan cahayanya. Aku menunggu kakakku pulang dari kerjanya sembari menatap malam di teras depan rumah. Menit maupun detik kian berlalu, hingga ku tertidur pulas menanti kedatangan kakakku.
          Terdengar suara serak-serak basah ditelingaku, membuatku terbangun dengan lajunya. Aku melihat luka disekujur tubuh kakakku dan motor yang hancur tak terbentuk. Pandangan itu membuatku ingin bertanya dengan kakakku.
          “Mas Jo tadi keserempet sama truk.” Jawabnya lirih.
“Innalillahi wailaihirojiun. Diminum dulu teh hangatnya mas.” Ku suguhkan secangkir teh hangat untuk kakakku. Luka yang menempel ditubuhnya langsung ku obati dengan perlahan. Tepat jam 23.25 WIB, Aku mengantar kakakku kekamarnya. Seusai mengantar dan keluar menutup pintu kamar kakakku, Aku langsung duduk dimeja makan yang terlihat cukup gelap dan hanya ada sebiji lampu bolam yang bersinar. Tak seperti biasanya, Aku selalu takut dengan hawa mistis malam hari, rasanya aku seperti ditemani oleh sosok 2 bayangan putih misterius disampingku.
“Rawat kakakmu.” Bisik itu mulai muncul dibenakku. Aku berusaha untuk menghilangkan rasa halusinasiku itu. Tetapi kalimat itu terus terucap dipikiranku. Aku mulai bangkit dan bergegas untuk tidur disamping Adikku, Talita. Saat akan memejamkan mataku, Aku terbangun dan teringat kalau Adikku belum makan sore tadi.  “Biarlah, anggap saja adikku sudah makan.” Gumamku santai.

Part 2#
          Pikiranku selalu dihantui oleh kematian, Aku takut bila harus meninggalkan kakak dan adikku. Kurenungkan semuanya dibale bawah pohon rindang itu. Menunduk sambil menggoyangkan kakiku justru menjerumuskan ingatanku waktu lampau. Aku sering mencurahkan apa saja yang ada dipikiranku ke Bundaku sembari menggoyangkan kakiku itu. Walaupun minggu ini aku sedang disengat sang Ratu matahari, Aku tetap diam melamunkan semuanya.
          “Mbak seragam adek udah ada yang bolong, tolong jahitkan mbak!” Talita mengulurkan seragam kusam itu kearah bola mataku. Lamunanku menghilang dengan cepatnya. Adikku memohonnya dengan mata yang penuh binar. Aku membalasnya dengan anggukan manis, kuterima seragam itu langsung kuberanjak menuju sebuah rumah sepetak yang bertuliskan “Jahit Murah”. Kebetulan tidak jauh dari tempat tinggalku. Terdengar suara mesin jahit itu membuatku teringat sesuatu saat aku diajak oleh ayah ke sebuah penjahit terkenal, dengan desain yang luar biasa. Aku melakukannya dengan tangan mungilku. Detik demi detik itu aku mulai bisa menjahit sebuah rok wiru sekolah dasarku dulu. Tetapi semuanya tlah berlalu, kini Aku tidak bisa melakukannya yang sama.
          “Adek.. dek.. Ini bajunya sudah jadi!” Ucap penjahit tua itu membuatku terbangun dari lamunanku tadi. Tanpa basa-basi aku langsung membayarnya dengan beberapa keping recehan. Ya Alhamdulillah.. penjahit itu menerimanya dengan senang hati. Aku bergegas pulang untuk menyiapkan makan siang. Dengan terburu-buru, Aku hampir menabrak motor yang melintas didepanku. Kutarik nafasku kuat-kuat untuk menenangkan fikiranku tadi.

Part 3#
          Senin!! Pasti sudah biasa kalo yang namanya Upacara. Hari itu aku tidak mempunyai topi karena aku belum cukup mampu membelinya. Beruntung sekali guruku mengizinkannya. Ya biarlah kalo Aku sering disindir oleh temanku yang derajatnya diatasku. Karna dulu waktu masih ada orang tuaku, aku juga pernah melakukannya. Mungkin ini ujian dari Allah SWT untukku.
          Perjalanan pulang ini terlihat agak petang dan gemuruh mulai berteriak, kemungkinan hari ini akan hujan deras. Aku terus melanjutkan langkahku sembari mendorong korsi roda adikku. Tiba-tiba awan putih langsung menangis dengan cepatnya membasahiku dan Talita. Aku bergegas lari dengan mendorongnya ketempat teduh di seberang jalan, tanpa kusadari kursi roda adikku berputar dan Talita terjatuh tergelempang. Waktu itu aku belum sempat menoleh kekanan dan kekiri, sebuah truk pengangkut batu-bata menabrak adikku. Bukan menolong malah melarikan diri. Ya Allah.. Cobaan apa lagi yang harus aku tempuh. Orang yang melihatku bergegas menolong adikku dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
***
          “Adik Talita mengalami pendarahan yang sangat hebat, dan juga pendarahan itu merusak hatinya. Talita sangat membutuhkan donoran hati secepatnya. Dan operasi itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Kasihan bila dia terbiarkan tanpa hati, nyawanya akan tersiksa.” Mendengar perkataan dokter tadi, membuatku menangis hingga tersedu-sedu. Kakakku hanya bisa merenungkan sembari merintikkan air matanya. Tiba-tiba seorang Ibu menghampiriku dengan perlahan. Ibu itu bersedia membantuku dalam proses pembiayaan, namun yang kucari hanyalah donoran hati untuk adikku.
          “Biar hati kakak saja yang diambil.” Kata itu mulai terucap di bibir manis kakakku. Akupun tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Tetapi kak Josua tetap memaksakan kehendaknya.

Part 4#
          Satu minggu dua hari tlah berlalu, kini tinggal Aku yang harus mencari nafkah untuk adikku. Pagi hingga sore tak akan lelah bagiku tuk mencari makan. Walaupun pekerjaanku hanyalah sebagai tukang kebersihan ditaman kota. Sedangkan Talita yang membantuku membersihkan rumah karena ia sudah bisa berjalan karena donoran hati dan kaki dari kakakku, Joshua.
          “Mbak.. adek tadi difitnah sama teman adek.” Curhat Talita memelas.
          “Difitnah gimana?”
          “Huu!! Kalo gak punya spidol ya jangan nyolong! Kere masih aja Gaya! Huu..”
          “Astagfirullah.. Emangnya adek ambil tuh spidol?”
          “Enggak mbak, itu padahal punya teman sebelahku. Ya.. memang mirip, tapi kan aku enggak ngambil. Bener mbak!!  Adek berani Sumpah.” Ujarnya panjang lebar.
          “Lho kenapa gak jelasin baik-baik ke temenmu?”
          “Sudah mbak, dianya yang gak percaya. andai aja kalo tadi ada sebelahku, Pasti adek udah terhindar dari fitnah itu. Karna sebelahku tadi baru ke perpus.”
          “Udah.. gak usah dipikir, mungkin kamu lagi diuji kesabaranmu oleh Allah SWT.” Kataku menenangkan. Sedangkan Talita hanya mengangguk sedih. Setelah mendengar ucap Talita tadi, ku serasa ingin membelikannya sebuah spidol. Ku melangkah kearah almari coklatku dan mengambil sebuah kotak yang berdebu. Hanya ada selembar uang Rp 100000 dan beberapa uang recehan maupun 1000-an. Akupun mengambil hanya 5 lembar uang 1000-an saja.
          Detik demi detik ku mulai mencarinya. Tanpa kusadari aku melihat seorang anak tengah menggambar dengan ibundanya. Aku menghampirinya dan berbicara perlahan dengan sopan.
          “Assalamualaikum.. Maaf, saya lancang. Bolehkah spidol itu saya beli?” Pintaku penuh binar. Dan ibu itu mengizinkanku untuk membelinya. Namun harga spidol itu tidak cukup dengan uang yang aku bawa. Harganya Rp 8000 sedangkan uang yang kubawa hanyalah 5000.
          “5000 juga gapapa dek, ini kan dah bekas anak saya.” Ibu itu menerimanya dengan senang. “Alhamdulillah… Ya Allah…” Syukur ku kepada Tuhan.
***
          Sesampai dirumah, Aku melihat seorang Ibu sedang memarahi Anak perempuan. Tanpa kusadari yang dimarahin itu adikku sendiri, Talita. Akupun bergegas menghampirinya. Langsung saja ku bertanya apa yang terjadi sebenarnya.
          “Ini Adek kamu itu dijaga, kalo gak punya sepeda yaudah, jangan dorong sama njatuhin anak saya, udah gak dipinjemin masih aja maksa.” Ucap Ibu itu dengan tegas. Ya Allah.. hanya masalah itu saja sampai seperti ini. Ku ucapkan perlahan-lahan kalau Talita memang salah, namun Talita marah dan langsung masuk kekamarnya. Aku meminta maaf ke Ibu tadi atas kesalahan adikku.
          “Ya.. tapi jangan diulang lagi.” Jawab Ibu itu sinis. Aku hanya bisa diam dan menganggukkan kepala.

Part 5#
                Pagi itu terlihat cerah, ku semangati pekerjaanku membersihkan taman kota. Hingga tak terasa waktu demi waktu tlah berlalu. Saat dalam perjalanan pulang, aku melihat sekumpulan warga bergerombol dipinggir jalan raya. Karna penasaran, akupun memutuskan untuk bertanya pada Ibu yang melintas dihadapanku.
          “Ohh itu.. anak kecil tadi ditabrak mobil fortuner putih. Tapi anehnya mobil itu tiba2 menghilang.” Ucap Ibu itu menghayati.
          “Hahh.. Mosok? Emang seumuran berapa? Trus plat nomer mobil tadi apa bu?” Tanyaku.
          “Seumuran Anak SD, kurang lebih 9 tahun-an. Kayaknya plat tadi itu (B 28 JBT).” Akupun terkejut mendengar jawaban ibu tadi. Plat mobil itu adalah plat mobil Fortuner milik ayah saat keluargaku kecelakaan, karena simbol JBT adalah singkatan dari Josua, Bilqis, dan Talita. Dan juga 9 tahun itu  adalah umur adikku, Talita. Akupun bergegas melihatnya dan ternyata…
          Itu memang Talita Adikku. Saat kuraba lubang hidungnya, tak kusangka Adikku sudah pergi meninggalkanku. Secara derasnya air mataku membasahi pipiku. “Kenapa Cobaan yang Kau berikan tak habis-habis… Ya Allah..” Teriakku. Orang yang mengelilingiku hanya bisa terdiam saat melihat aku memeluk erat adikku. Tiba-tiba seorang bapak memberikan sebuah perekam suara yang berlumuran darah kepadaku.
          “Ini milik adikmu, tadi dia sempat merekam pembicaraanya saat mau menyebrang jalan.” Aku menerimanya dan menghidupkannya perlahan.
          “Mbak Bilqis.. Ini Adek. Semalem adek mimpi bertemu dengan ayah, bunda, dan mas jo. Mereka mengajak adek untuk pergi bersama meninggalkan Mbak Bilqis. Agar Mbak bisa belajar bersabar karena Mbak dulu itu Egois dan mudah marah. Adek tau sebenarnya hati Mbak itu mulia, tapi Mbak sukanya bentak adek terus. Andaikan Mbak bisa memaafkan adek saat ini juga, adek bisa pergi dengan tenang bersama mereka. Adek gak akan lupa masa-masa dulu saat Mbak sering bantu adek waktu adek tidak bisa jalan dan selalu berada dikursi roda. Selamat Tinggal dan Terimakasih banyak Kakakku tersayang... Tinn tinn……” Suara Adikku sekaligus suara lakson mobil. Aku tidak bisa membalasnya dengan kata-kata. Air mataku terus bercucuran tanpa henti.

Part  6#
          Aku berjalan pergi meninggalkan tempat tinggalku seusai Tujuh hari pemakaman adikku. Walaupun udara siang itu sedang hangat bingar, aku tetap melangkahkan kakiku detik demi detik. Hingga tak terasa telah sampai di Jembatan Situmulyo yang tidak jauh dari tempat tinggalku. Ku mulai mengangkat kakiku keluar pembatas jembatan. Tanpa menghiraukan larangan warga, aku langsung melepaskan peganganku di jembatan itu.
          “Ayah.. Bunda.. Mas Jo.. Dek Talita.. Tunggu Aku disana.” Ujarku. Langsung saja aku berbalik arah dan melepaskan keseimbanganku agar aku bisa bertemu dengan keluargaku. Akupun Jatuh dan tewas seketika di sungai itu.

          SAD ENDING

Gimana Ceritanya? Sedih bukan? Semoga bermanfaat bagi anda dan terimakasih telah membaca cerita hasil karangan saya.
         


Tidak ada komentar:

Posting Komentar